36 Komentar
// 29 Oktober 2009
Pembaca muslim yang dimuliakan oleh
Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan
mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai
dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam,
مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman pada
Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)
Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.
Adab Bagi Tuan Rumah
1. Ketika mengundang seseorang,
hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir
(bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam,
لاَ
تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ
تَقِيٌّ
“Janganlah engkau berteman melainkan
dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang
bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Tidak mengkhususkan mengundang
orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
شَرُّ
الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ
الْفُقَرَاءُ
“Sejelek-jelek makanan adalah
makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya
ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)
3. Tidak mengundang seorang yang
diketahui akan memberatkannya kalau diundang.
4. Disunahkan mengucapkan selamat
datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
مَرْحَبًا
بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى
“Selamat datang kepada para utusan
yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)
5. Menghormati tamu dan menyediakan
hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik
mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman
yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:
فَرَاغَ
إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ
إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ
“Dan Ibrahim datang pada keluarganya
dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut
pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
6. Dalam penyajiannya tidak
bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk
mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum
beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu
Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.
7. Hendaknya juga, dalam
pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.
8. Mendahulukan tamu yang sebelah
kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk
dengan tertib.
9. Mendahulukan tamu yang lebih tua
daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam:
مَنْ
لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa yang tidak mengasihi
yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami
bukanlah golongan kami.” (HR
Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati
orang yang lebih tua.
10. Jangan mengangkat makanan yang
dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
11. Di antara adab orang yang
memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan
yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan
kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan
tatkala pamitan pulang.
12. Mendekatkan makanan kepada tamu
tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang
Ibrahim ‘alaihis salam,
فَقَرَّبَهُ
إِلَيْهِمْ
“Kemudian Ibrahim mendekatkan
hidangan tersebut pada mereka.”
(Qs. Adz-Dzariyat: 27)
13. Mempercepat untuk menghidangkan
makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.
14. Merupakan adab dari orang yang
memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka
kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
15. Adapun masa penjamuan tamu
adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الضِّيَافَةُ
ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ
مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ
اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ
عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
“Menjamu tamu adalah tiga hari,
adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal
pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya
Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa
untuk menjamu tamunya.”
16. Hendaknya mengantarkan tamu yang
mau pulang sampai ke depan rumah.
Adab Bagi Tamu
1. Bagi seorang yang diundang, hendaknya
memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang
menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam,
مَنْ
دُعِىَ فَلْيُجِبْ
“Barangsiapa yang diundang maka
datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
وَمَنْ
تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ
“Barang siapa yang tidak memenuhi
undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Untuk menghadiri undangan maka
hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:
- Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari
dan dijauhi.
- Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
- Orang yang mengundang adalah muslim.
- Penghasilan orang yang mengundang bukan dari
penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh
menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya bagi
orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.
- Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika
menghadiri undangan tersebut.
- Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.
2. Hendaknya tidak membeda-bedakan
siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.
3. Berniatlah bahwa kehadiran kita
sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya,
karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)
4. Masuk dengan seizin tuan rumah,
begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah
menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala
dalam firman-Nya:
يَاأََيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ
لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ
فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ
لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ
لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ
“Wahai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk
makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu
diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa
memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi.
Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu
menerangkan yang benar.” (Qs. Al
Azab: 53)
5. Apabila kita dalam keadaan
berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan
kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk
menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
إذَا
دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ
مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ
“Jika salah seorang di antara kalian
di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa,
makanlah!” (HR. Muslim)
6. Seorang tamu meminta persetujuan
tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan,
tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.
7. Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang
yang sedang makan.
8. Hendaknya seseorang berusaha
semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah
ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al
Ahzab: 53)
9. Sebagai tamu, kita dianjurkan
membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang
antara sesama muslim,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan
saling mencintai.” (HR. Bukhari)
10. Jika seorang tamu datang bersama
orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu,
sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu:
كَانَ
مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ
لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ
صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا
رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ
بَلْ أَذْنْتُ لَهُ
“Ada seorang laki-laki di kalangan
Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang
daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku
bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang
orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima
orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia!
Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku
telah mengizinkannya.”"
(HR. Bukhari)
11. Seorang tamu hendaknya mendoakan
orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan
tersebut dengan doa:
أَفْطَرَ
عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ
عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ
“Orang-orang yang puasa telah
berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian.
semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.”
(HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)
اَللّهُـمَّ
أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي
“Ya Allah berikanlah makanan kepada
orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada
orang yang telah memberiku minuman.”
(HR. Muslim)
اَللّهُـمَّ
اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ
“Ya Allah ampuni dosa mereka dan
kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim)
12. Setelah selesai bertamu
hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti
yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah
adab dalam
bepergian, bertamu dan menerima tamu:
- 1. ADAB DALAM BEPERGIAN, BERTAMU DAN MENERIMA TAMU
- 3. Adab DALAM BEPERGIAN, BERTAMU DAN MENERIMA TAMU ADAB ketika Bersafar/Bepergian Jauh• Bepergian artinya pergi keluar rumah baik untuk tujuan jarak jauh maupun jarak dekat.• Contoh adab bepergian :3. Disunahkan untuk berdo`a pada waktu berangkat dan berpamitan. Allah berfirman dalam Q.S Az- Zukharuf ayat 13-14, yang artinya : “Maha suci tuhan yang telah memudahkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali ke Tuhan kami.
- 4. 2. Jika hendak bepergian jauh, disunahkan untuk sholat 2 rakaat.3. Mempersiapkan bekal sebelum berangkat dan menggunakan kendaraan yang layak pakai.4. Utamakan berpegian pada hari kamis, dan berangkat pada pagi hari seperti di sebutkan dalam hadits Rasulullah saw. berikut ini yang artinya : “sesungguhnya Rasulullah saw. Pernah berdoa : “ ya Allah berkatilah umatku pada waktu pagi hari” dan apabila beliau mengirim pasukan, maka berangkatkan pada pagi hari.”
- 5. 5. Apabila bepergian bersama rombongan hendaknya mengangkat salah satu untuk menjadi pemimpin rombongan. Sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang artinya : “apabila ada tiga orang yang bepergian hendaknya mereka memilih seorang pemimpin di antara mereka.”6. Selama bepergian dianjurkan tolong menolong dan dilarang berbuat kerusakan.7. Segera pulang apabila keperluan telah selesai dan lebih baik pulang pada siang hari.8. Berdo`a ketika tiba dari perjalanan dan sholat sunah 2 rakaat di mesjid.
- 6. • Meperaktikkan adab bepergian dalam kehidupan sehari-hari:2.Tanamkan iman yang kuat, agar tidak mudah tergoda untuk bujuk rayu setan diperjalanan.3.Berkeyakinan bahwa bepergian dengan niat yang baik akan mendapat pahala.4.Tidak melenceng dari niat baik semula agar perjalanan lancar dan selamat.5.Tidak bepergian tanpa arah dan tujuan yang jelas.6.Memberi tahu lebih dahulu kepada keluarga sebelum bepergian.
- 7. Adab Bertamu1. Jangan bertamu pada tiga waktu aurat. Yaitu sehabis zuhur, sesudah isya, sebelum subuh, dalam Q.S. An-Nur 24 : 58 yang artinya “wahai sekalian orang yang beriman hendak nya meminta izin hamba yang dimiliki tangan kananmu dan anak-anak yang belum dewasa,sebanyak tiga kali, yaitu sebelum sholat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu sesudah zuhur dan sesudah isya. Itu lah tiga waktu aurat bagimu. Tidaklah ada salahnya bagi kamu dan tidak pula bagi mereka (jika tidak minta izin) selain waktu tersebut itu untuk saling melayani antara satu dan yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan peraturan Nya untuk kamu dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
- 8. 2. Cara bertamu yang baik :b)Berpakaian yang rapi dan pantas. Firman Allah dalam surah Al-Isra’ 17 : 7 “jika kamu berbuat baik (bearti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.c) Memberi isyarat dan salam ketika datang. Firman Allah dalam surah An-Nur 24:27 “wahai orang- orang yang beriman janganlah masuk ke dalam rumah-rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Itulah yang lebih baik bagimu supaya kamu ingat.”
- 9. c) Jangan mengintip ke dalam rumah.d) Minta izin masuk maksimal tiga kali maksud nyae) Memperkenalkan diri sebelum masuk.f) Tamu lelaki di larang masuk ke dalam rumah apabila tuan rumah hanya seorang wanita. Seperti hadis Rasulullah saw berikut : “janganlah seorang laki-laki bersepi-sepi bersama perempuan kecuali dia (perempuan tersebut) bersama mahramnya. Jangan pula seorang perempuan berpergian, kecuali apabila dia bersama mahramnya.
- 10. g) Masuk dan duduk dengan sopanh) Menerima jamuan tuan rumah dengan senang hatii) Mulailah makan dengan membaca basmalah dan diakhiri dengan alhamdulillah.j) Makanlah dengan tangan kanan, ambillah yang tedekat dan jangan memilih.k) Bersih kan piring, jangan di biarkan berceceranl) Segera pulang setelah urusan selesaim) Lama waktu berkunjung maksimal tiga hari tiga malam (apabila tempat tinggal tamunya jauh).
- 11. Contoh bertamu yang baik:
- 12. Contoh bertamu yang tidak baik
- 13. Adab Menerima Tamu• Adab Bagi Tuan Rumah:2. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,• ََُاِبُِّْؤًِْا, َََأََُُْاَكَِلَِيّلتصحإلممنوليكلطعمإّتق• “Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
- 14. 2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,• ََُّْالَّاََِاُالَِْيَُِدَْىََااَغَِْاُ،َُتشرطعمطعمولمةيعلهلنيءويركفقرءُالََُْا• “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)
- 15. 3. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,• َرًَْاِالَْفِْاِّيََاُواَيَََْاَاََََاَىمحببودلذنجءغرخزيولندم• “Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)
- 16. 5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:• َََاَِلََهْلََِاَِِجٍَِْيٍْ . ََََُِّيِْمَْاَآفرغإىأِهفجءبعلسمنفقربهإلهقللتكلنََْأُُْو• “Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu- tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
- 17. 6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.7. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.
- 18. 8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:• َنَْمَْرَْمَِْيََْاَُِلَِيََْاََيَِّْامليحصغرنويجّكبرنفلسمن“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.
- 19. • 10. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.• 11. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang- bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.
- 20. 12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,• ََََُِّْيِْمفقربهإله• “Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)13. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.14. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
- 21. 15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,• ْالَّاَََََُُّاٍََاََُُِوٌٌٍََََََََُُِِّْسٍَِْنضيفةثلثةأيموجئزتهيموليْلةوليحللرجلملمأُقيَِْنََِْيَِّىُؤَُِْقَُوْاَاَُوَْاََِيَُْؤَُِْ؟يمعدأخْهحتيثمهاليرسللوكفيثمهقليقمعدهولشئلهرهبهَِِِْاَ : ُِيُِْنََََُْيََُْيقِْي• “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.
0 komentar:
Posting Komentar